Cagar Budaya adalah daerah yang kelestarian hidup masyarakat dan peri kehidupannya 
dilindungi oleh undang-undang dari bahaya kepunahan. Menurut UU.No.11 tahun 2010, cagar 
budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan 
cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat 
dan atau di air yang perlu dilestarikan keberadaanny karena memiliki nilai penting bagi 
sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses 
penetapan.(Wikipedia)


Kabupten Sambas memiliki banyak sekali cagar budaya yang patut dijaga kelestariannya. 
beberapa diantaranya telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Indonesia untuk kategori Bangunan yaitu 
Istana Alwatzikhoebillah dan Masjid Jamik Sultan Muhammad Tsafioedin II. Meskipun 
demikian masih banyak situs cagar budaya yang tidak terawat seperti makam Komandan Overste 
Sorg di Bukit Penibung Tanjung Batu, Pemangkat. Overste Sorg adalah komandan pasukan 
belanda yang gugur saat membantu Sultan Abu Bakar Tadjuddin II dalam melawan 
pemberontakan kongsi cina pada tahun 1850. Selain itu ada beberapa cagar budaya yang justru 
hampir terlupakan seperti makam keramat Bujang Nadi dan Dare Nandung di Bukit Sebedang, 
Kota Lama yang dulu pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Sambas yang bercorak hindu 
yang dipimpin oleh Ratu Sepudak, serta makam datok Kullup di Bukit Piantus yang perlu 
mendapat penanganan segera agar tidak punah.

Pendopo Makam Datok Kullup

Tulisan kali ini adalah menyoroti Makam Datok Kullup yang berada di bukit Piantus yang 
semakin hari semakin terlupakan. Datok Kullup adalah tokoh dalam legenda rakyat kabupaten 
Sambas. 
Menurut pengertian para ahli, legenda adala prosa rakyat yang dianggap benar-benar 
terjadi tetapi tidak dianggap suci. Legenda ditokohi manusia walaupun ada kalanya mempunyai 
sifat luar biasa dan seringkali juga dibantu mahluk-mahluk ghaib. Datok Kullup adalah tokoh
legenda yang kebenarannya dikuatkan dengan adanya sebuah makam yang diakui sebagai 
makam datok Kullup di bukit Piantus Sebedang, Desa Kenanai Kecamatan Sejangkung Kab. 
Sambas Kalbar.


Datok Kullup adalah saudara kandung dari Bujang Nadi dan Dare Nandung yang dikubur hidup-
hidup di bukit Sebedang. Datok Kullup adalah anak dari Raja Tan Unggal yang berkuasa jauh 
sebelum Ratu Sepudak (1550) dan Kesultanan Sambas (1631). Raja Tan Unggal mememerintah 
dengan kejam dan bengis. Tidak diketahui pasti berapa lama sang raja memerintah kerajaan 
Sambas karena kurangnya catatan sejarah. Kekejaman sang raja tidak hanya kepada rakyat 
melainkan juga kepada sang anak termasuk Datok Kullup. Peraturan raja bahwa anak raja tidak 
boleh bergaul dengan anak yang bukan dari kalangan raja atau bangsawan. Oleh karena dididik 
seperti itu, datok kullup yang sejak dari lahir tidak mendapat kasih sayang dari ibu (ibunya 
meninggal saat melahirkan datok Kullup) dan ayah, akhirnya mengisi waktunya dengan berburu. 
Kegemarannya adalah berburu di bukit Piantus. Datok Kullup dikenal sebagai orang yang kebal 
atau anti terhadap senjata tajam. hal itu bermula ketika beliau akan dikhitan pada masa itu 
(menurut adat pada masa itu anak laki-laki harus dikhitan) namun pisau tidak mampu melukai 
bagian kemaluannya. Bahkan dengan kapak sekalipun, tak mampu melukai kulitnya. Berita 
tersebut menyebar ke seluruh penjuru negeri Sambas kala itu. Masyarakatpun menyebutnya 
dengan nama Kullup. Mendengar nama panggilan tersebut, datok Kullup pun menjadi malu. 
baginya gelar Kullup adalah Aib.

Makam Datok Kullup

Suatu ketika, Datok Kullup berburu di bukit Piantus. Dia melihat seekor burung dan mencoba 
memanahnya. Namun anak panah meleset dan tidak mengenai sasaran. Burung tersebut ternyata 
bersuara dan mengeluarkan suara kullup-kullup. Datok Kullup yang mendengar namanya 
dipanggil menjadi serta merta marah dan mengejar burung tersebut sambil mencoba 
memanahnya. Dia merasa burung tersebut sengaja mengejeknya. Datok Kullup berlari mengejar 
burung tersebut dan memanahnya namun anak panah tetap tidak mengenai sasaran. Dia berlari 
dan terus mengejar burung tersebut, dan ketika berada diturunan bukit, Kaki Datok Kullup 
tersandung dan jatuh sehingga bekas telapak kakinya jelas terlihat di atas batu. Datok Kullup 
yang terjatuh itu lalu meninggal dan untuk menghormatinya sebagai anak raja yang gemar 
berburu, akhirnya pihak istana menguburkannya di puncak Bukit Piantus. Kini makam datok 
Kullup di puncak Bukit Piantus masih bisa kita lihat dan dibuatkan pendopo lengkap dengan kain 
kuning. Selain Makam Datok Kullup, telapak kaki di atas batu yang diyakini sebagai telapak 
kaki datok Kullup juga dapat ditemukan di kaki bukit yang tidak jauh dari makamnya. Area 
telapak kaki tersebut kini dijadikan bak penampung air umum yang kondisinya juga sudah 
mengering.
Telapak Kaki Datok Kullup


Makam Datok Kullup dan telapak kakinya saling berkaitan dan perlu mendapat penelitian lebih 
jauh dari pakar sejarah. Karena Datok Kullup adalah tokoh yang berkaitan langsung dengan Tan 
Unggal, Raja Kerajaan Sambas sebelum Ratu Sepudak berkuasa. Selain itu keberadaan makam 
dan telapak kaki Datok Kullup saat ini tidak begitu mendapat perhatian serius dari pihak terkait. 
Seperti akses menuju makam datok Kullup yang berupa tangga semen tidak dilakukan 
perbaikan sama sekali. Padahal kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan membahayakan 
pengunjung. Pembangunan tangga tersebut dilakukan sekitar tahun 1997 silam dan hingga saat 
ini belum dilakukan perbaikan. Begitu juga dengan makam datok kullup kondisinya juga perlu 
mendapat penanganan segera. Pendopo tersebut masih berlantaikan tanah, didiami tawon dan
tidak terjaga kebersihannya serta dipenuhi debu. Selain itu tidak ada informasi atau catatan 
mengenai Datok Kullup yang dipajang di area makam agar bisa dilihat pengunjung. Sehingga 
pengunjung menjadi tahu nama asli Datok Kullup. Silsilahnya serta asal muasal nama Datok 
Kullup. Akibatnya Datok Kullup dan keberadaan makamnya semakin hari semakin terlupakan. 
Kondisi tersebut diperparah lagi dengan telapak kaki yang menyerupai telapak kaki manusia 
namun berukuran besar dan di atas rata-rata ukuran kaki manusia biasa ini yang berada di atas 
batu justru dijadikan bak penampung air. Beberapa waktu lalu, telapak kaki tersebut masih 
tergenang air namun perubahan iklim yang terjadi membuat sumber air di area telapak kaki 
Datok Kullup menjadi mengering dan tidak ada air yang tersisa. Akibatnya bak penampungan air 
tersebut hanya menjadi bak penampung daun. Hal itu berdampak pada keberadaan telapak kaki 
datok Kullup di atas batu yang juga ikut tertimbun daun. Belum ada langkah dari pihak 
berwenang untuk melakukan pemugaran atau pelindungan terhadap bekas telapak kaki datok 
Kullup ini. Bahkan ketika kita akan melihatnya langsung, kita harus ditemani orang yang faham 
betul lokasi telapak kaki tersebut karena untuk menuju lokasinya tidak memiliki tanda atau arah 
penunjuk sama sekali. Oleh karena itu, telapak kaki maupun makam Datok Kullup yang 
memiliki nilai cagar budaya perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak agar terawat
dengan baik serta tidak punah dan musnah.
Status Objek Benda Cagar Budaya Tidak Terawat

Jangan sampai cagar budaya yang ada mulai 
terlupakan dan hilang ditelan zaman karena kealpaan kita untuk merawat dan melesatarikannya.
Padahal ia memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahun maupun budaya yang dapat menambah 
khasanah kita semua. Biar lebih greget simak video youtube saya mencari jejak telapak kaki 
Datok Kullup disini


Simak juga video youtube saya terkait pesona bukit piantus sebagai objek wisata alam, sejarah 
dan budaya disini.


Tulisan ini diikutsertkan dalam lomba Blog Cagar Budaya: Rawat atau Musnah! Yuk ramaikan 
lomba ini dengan menulis potensi cagar budaya atau kondisi cagar budaya di daerah kalian agar 
semakin dikenal serta mendapat penanganan dari pihak terkait agar tidak punah dan terlupakan.




Share on :

0 Responses to Makam Datok Kullup Cagar Budaya Indonesia Yang Terlupakan

.......................................