Kintamani (sumber foto/koleksi pribadi)
Kintamani ini terletak di tengah-tengah Pulau Bali atau tepatnya di Kabupaten Bangli,
Bali Selatan.

Kintamani ini berasal dari kata cintia dan asmani. Kata cintia bearti tak terpikirkan yang
menggambarkan kewujudan Tuhan. Sedangkan kata asmani bearti pendeta yang merujuk pada
pengabdian kepada Tuhan. Sehingga Kintamani menjadi tempat untuk melakukan pertapaan oleh
para pendeta Hindu.

Kintamni terkenal karena pemandangan alamnya yang indah yaitu hamparan kaldera
yang hitam dengan dua gunung serta satu danau yang terbesar di Pulau Bali. Gunung dan danau
tersebut adalah Gunung Batur yang memiliki tinggi 1 717 m dan Gunung Abang dengan
tingginya 2 152 m serta Danau Batur.

Gunung Batur merupakan gunung berapi yang masih aktif
dan pernah meletus dengan dahsyatnya pada tahun 1926. Akibat letusan itu terbentuklah kaldera
seluas 13,8 x 10 m. selain itu letusan tersebut juga membentuk Danau Batur seluas 1.607,5 Ha.
Semua keindahan akibat peristiwa alam itu menjadikan Kintamani terkenal di mata wisatawan
nusantara maupun asing.

Selain memiliki pemandangan alam yang eksotis, Kintamani juga masih menyimpan
keunikan lainnya yaitu dipinggiran timur Danau Batur misalnya berdiri sebuah desa yang
memiliki adat tradisi yang cukup menarik. Desa tersebut bernama Desa Trunyan. Desa ini
memiliki adat tradisi yang berbeda dengan masyarakat Bali pada umumnya yakini dari segi
kepengurusan mayat. Jika masyarakat Bali pada umumnya melakukan Ngaben maka masyarakat
Desa Trunyan justru tidak. Jika ada masyarakat Desa Trunyan yang meninggal dunia, mayatnya
tidak akan dibakar melainkan diletakan di atas batu di samping Pohon Tarumenyan. Pohon
tersebut diyakini dapat menyerap bau busuk yang dikeluarkan mayat tersebut. Meskipun begitu,adanya perbedaan adat tersebut karena Desa Trunyan tidak mendapat pengaruh kebudayaan dari
Kerjaan Hindu Majapahit.
Kintamani ini sendiri dikelola oleh beberapa desa yaitu Desa Kedisan, Abang, Kintamani,
dan Kuahan. Meskipun demikian, pengelolaan tersebut tetap di bawah perhatian Pemerintah
Provinsi Bali. Saat ini pemerintah beserta desa adat tersebut sedang memperjuangkan kaldera
yang menghampar luas itu agar diakui oleh UNESCO sebagai warisan sejarah dunia.

Fasilitas yang tersedia di Kintamani ini antara lain area parkir yang cukup luas baik itu
untuk kendaraan pribadi atau bus, restoran yang menyajikan makanan halal, mushola, toilet,
penginapan, serta warung-warung kecil penyedia makanan kecil atau minuman.



Kompleks Pura Besakih merupakan komplek pura terbesar di Provinsi Bali yang terletak
di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karang Asem. Pura Besakih berjarak 60 Km
dari Kota Denpasar dengan ketinggian 1000 meter dari permukaan laut. Kompleks Pura Besakih
terdiri 1 pura pusat yaitu Pura Penataran Agung Besakih yang merupakan pura terbesar dengan
tinggi bangunan 17 meter serta 18 pura pendamping yakini 1 pura basukian dan 17 pura lainnya.

Adapun pura pendamping tersebut antara lain, Pura Pesimpangan, Pura Dalem Puri yang
letaknya paling selatan dari Pura Penataran Agung, yaitu di sebelah barat sungai, Pura Manik
Mas, Pura Bangun Sakti, Pura Ulun Kulkul, Pura Merajan Selonding, Pura Goa, Pura Banua
Kawan, Pura Merajan Kanginan, Pura Hyang Haluh (Pura Jenggala), Pura Batu Madeg, Pura
Batu Kiduling Kreteg, Pura Gelap, Pura Pengubengan, Pura Batu Tirtha, dan Pura Batu
Peninjoan.


Menurut sejarahnya, Hyang Resi Markandya yang merupakan seorang pendeta adalah
yang pertama kali menerima wahyu dari Tuhan. Sejak menerima wahyu tersebut, beliau mulai
menyebarkan agama Hindu di Bali. Hal itu menjadi asal muasal adanya agama Hindu di Bali.
Kononnya Hyang Resi Markandya juga membawa serta 8000 rombongannya dari Jawa Timur
untuk menetap di Bali. Oleh karena itu beliau membangun Pura Besakih untuk memohon
keselamatan dan kesejahteraan warga setempat dan pengikutnya kepada sang Tuhan.

Kompleks Pura Besakih ini merupakan pusat semua kegiatan keagamaan di Bali. Satu
diantaranya perayaan Galungan yang diadakan setiap tahun sekali kala bulan Purnama. Perayaan
tersebut dilakukan selama satu bulan penuh secara meriah. Di dalam kompleks Pura Besakih
yang terdapat Pura Penataran Agung menjadi acuan dalam membangun suatu bangunan baik itu
tempat tinggal maupun tempat usaha. Bangunan yang akan dibangun tidak boleh melebihi tinggi
bangunan Pura Agung Besakih yaitu 17 m. Hal itu dikarenakan Pura Agung Besakih merupakanpura tertinggi yang dikhususkan untuk memuja Alam Atas (Dewa). Di kompleks Pura Besakih
ini juga terdapat 3 arca yang merupakan symbol dari sifat Tuhan Tri Murti yaitu, Dewa Brahma,
Wisnu dan Siwa Siwa yang merupakan perlambang Dewa Pencipta, Dewa Pemelihara dan Dewa
Pelebur/Reinkarnasi. 

Pura Besakih masuk dalam daftar pengusulan Situs Warisan Dunia
UNESCO sejak tahun 1995.
Keberadaan fisik Pura Besakih, tidak hanya sebagai tempat pemujaan terhadap Tuhan
YME, namun di dalamnya juga memiliki keterkaitan latar belakang dengan makna Gunung
Agung. Sebuah gunung tertinggi di pulau Bali yang dipercaya sebagai pusat Pemerintahan Alam
Arwah, Alam Para Dewata, yang menjadi utusan Tuhan untuk wilayah Pulau Bali dan sekitar.
Sehingga tepatlah kalau di lereng Barat Daya Gunung Agung dibuat bangunan untuk kesucian
umat manusia, Pura Besakih yang memiliki makna filosofis.

Adapun makna filosofis yang terkandung di Pura Besakih tersebut didalamnya
mengandung unsur-unsur kebudayaan meliputi sistem pengetahuan, peralatan hidup dan
teknologi, organisasi sosial kemasyarakatan, ,ata pencaharian hidup, sistem bahasa, agama dan
upacara, dan kesenian.


Cagar Budaya adalah daerah yang kelestarian hidup masyarakat dan peri kehidupannya 
dilindungi oleh undang-undang dari bahaya kepunahan. Menurut UU.No.11 tahun 2010, cagar 
budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan 
cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat 
dan atau di air yang perlu dilestarikan keberadaanny karena memiliki nilai penting bagi 
sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses 
penetapan.(Wikipedia)


Kabupten Sambas memiliki banyak sekali cagar budaya yang patut dijaga kelestariannya. 
beberapa diantaranya telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Indonesia untuk kategori Bangunan yaitu 
Istana Alwatzikhoebillah dan Masjid Jamik Sultan Muhammad Tsafioedin II. Meskipun 
demikian masih banyak situs cagar budaya yang tidak terawat seperti makam Komandan Overste 
Sorg di Bukit Penibung Tanjung Batu, Pemangkat. Overste Sorg adalah komandan pasukan 
belanda yang gugur saat membantu Sultan Abu Bakar Tadjuddin II dalam melawan 
pemberontakan kongsi cina pada tahun 1850. Selain itu ada beberapa cagar budaya yang justru 
hampir terlupakan seperti makam keramat Bujang Nadi dan Dare Nandung di Bukit Sebedang, 
Kota Lama yang dulu pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Sambas yang bercorak hindu 
yang dipimpin oleh Ratu Sepudak, serta makam datok Kullup di Bukit Piantus yang perlu 
mendapat penanganan segera agar tidak punah.

Pendopo Makam Datok Kullup

Tulisan kali ini adalah menyoroti Makam Datok Kullup yang berada di bukit Piantus yang 
semakin hari semakin terlupakan. Datok Kullup adalah tokoh dalam legenda rakyat kabupaten 
Sambas. 
Menurut pengertian para ahli, legenda adala prosa rakyat yang dianggap benar-benar 
terjadi tetapi tidak dianggap suci. Legenda ditokohi manusia walaupun ada kalanya mempunyai 
sifat luar biasa dan seringkali juga dibantu mahluk-mahluk ghaib. Datok Kullup adalah tokoh
legenda yang kebenarannya dikuatkan dengan adanya sebuah makam yang diakui sebagai 
makam datok Kullup di bukit Piantus Sebedang, Desa Kenanai Kecamatan Sejangkung Kab. 
Sambas Kalbar.


Datok Kullup adalah saudara kandung dari Bujang Nadi dan Dare Nandung yang dikubur hidup-
hidup di bukit Sebedang. Datok Kullup adalah anak dari Raja Tan Unggal yang berkuasa jauh 
sebelum Ratu Sepudak (1550) dan Kesultanan Sambas (1631). Raja Tan Unggal mememerintah 
dengan kejam dan bengis. Tidak diketahui pasti berapa lama sang raja memerintah kerajaan 
Sambas karena kurangnya catatan sejarah. Kekejaman sang raja tidak hanya kepada rakyat 
melainkan juga kepada sang anak termasuk Datok Kullup. Peraturan raja bahwa anak raja tidak 
boleh bergaul dengan anak yang bukan dari kalangan raja atau bangsawan. Oleh karena dididik 
seperti itu, datok kullup yang sejak dari lahir tidak mendapat kasih sayang dari ibu (ibunya 
meninggal saat melahirkan datok Kullup) dan ayah, akhirnya mengisi waktunya dengan berburu. 
Kegemarannya adalah berburu di bukit Piantus. Datok Kullup dikenal sebagai orang yang kebal 
atau anti terhadap senjata tajam. hal itu bermula ketika beliau akan dikhitan pada masa itu 
(menurut adat pada masa itu anak laki-laki harus dikhitan) namun pisau tidak mampu melukai 
bagian kemaluannya. Bahkan dengan kapak sekalipun, tak mampu melukai kulitnya. Berita 
tersebut menyebar ke seluruh penjuru negeri Sambas kala itu. Masyarakatpun menyebutnya 
dengan nama Kullup. Mendengar nama panggilan tersebut, datok Kullup pun menjadi malu. 
baginya gelar Kullup adalah Aib.

Makam Datok Kullup

Suatu ketika, Datok Kullup berburu di bukit Piantus. Dia melihat seekor burung dan mencoba 
memanahnya. Namun anak panah meleset dan tidak mengenai sasaran. Burung tersebut ternyata 
bersuara dan mengeluarkan suara kullup-kullup. Datok Kullup yang mendengar namanya 
dipanggil menjadi serta merta marah dan mengejar burung tersebut sambil mencoba 
memanahnya. Dia merasa burung tersebut sengaja mengejeknya. Datok Kullup berlari mengejar 
burung tersebut dan memanahnya namun anak panah tetap tidak mengenai sasaran. Dia berlari 
dan terus mengejar burung tersebut, dan ketika berada diturunan bukit, Kaki Datok Kullup 
tersandung dan jatuh sehingga bekas telapak kakinya jelas terlihat di atas batu. Datok Kullup 
yang terjatuh itu lalu meninggal dan untuk menghormatinya sebagai anak raja yang gemar 
berburu, akhirnya pihak istana menguburkannya di puncak Bukit Piantus. Kini makam datok 
Kullup di puncak Bukit Piantus masih bisa kita lihat dan dibuatkan pendopo lengkap dengan kain 
kuning. Selain Makam Datok Kullup, telapak kaki di atas batu yang diyakini sebagai telapak 
kaki datok Kullup juga dapat ditemukan di kaki bukit yang tidak jauh dari makamnya. Area 
telapak kaki tersebut kini dijadikan bak penampung air umum yang kondisinya juga sudah 
mengering.
Telapak Kaki Datok Kullup


Makam Datok Kullup dan telapak kakinya saling berkaitan dan perlu mendapat penelitian lebih 
jauh dari pakar sejarah. Karena Datok Kullup adalah tokoh yang berkaitan langsung dengan Tan 
Unggal, Raja Kerajaan Sambas sebelum Ratu Sepudak berkuasa. Selain itu keberadaan makam 
dan telapak kaki Datok Kullup saat ini tidak begitu mendapat perhatian serius dari pihak terkait. 
Seperti akses menuju makam datok Kullup yang berupa tangga semen tidak dilakukan 
perbaikan sama sekali. Padahal kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan membahayakan 
pengunjung. Pembangunan tangga tersebut dilakukan sekitar tahun 1997 silam dan hingga saat 
ini belum dilakukan perbaikan. Begitu juga dengan makam datok kullup kondisinya juga perlu 
mendapat penanganan segera. Pendopo tersebut masih berlantaikan tanah, didiami tawon dan
tidak terjaga kebersihannya serta dipenuhi debu. Selain itu tidak ada informasi atau catatan 
mengenai Datok Kullup yang dipajang di area makam agar bisa dilihat pengunjung. Sehingga 
pengunjung menjadi tahu nama asli Datok Kullup. Silsilahnya serta asal muasal nama Datok 
Kullup. Akibatnya Datok Kullup dan keberadaan makamnya semakin hari semakin terlupakan. 
Kondisi tersebut diperparah lagi dengan telapak kaki yang menyerupai telapak kaki manusia 
namun berukuran besar dan di atas rata-rata ukuran kaki manusia biasa ini yang berada di atas 
batu justru dijadikan bak penampung air. Beberapa waktu lalu, telapak kaki tersebut masih 
tergenang air namun perubahan iklim yang terjadi membuat sumber air di area telapak kaki 
Datok Kullup menjadi mengering dan tidak ada air yang tersisa. Akibatnya bak penampungan air 
tersebut hanya menjadi bak penampung daun. Hal itu berdampak pada keberadaan telapak kaki 
datok Kullup di atas batu yang juga ikut tertimbun daun. Belum ada langkah dari pihak 
berwenang untuk melakukan pemugaran atau pelindungan terhadap bekas telapak kaki datok 
Kullup ini. Bahkan ketika kita akan melihatnya langsung, kita harus ditemani orang yang faham 
betul lokasi telapak kaki tersebut karena untuk menuju lokasinya tidak memiliki tanda atau arah 
penunjuk sama sekali. Oleh karena itu, telapak kaki maupun makam Datok Kullup yang 
memiliki nilai cagar budaya perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak agar terawat
dengan baik serta tidak punah dan musnah.
Status Objek Benda Cagar Budaya Tidak Terawat

Jangan sampai cagar budaya yang ada mulai 
terlupakan dan hilang ditelan zaman karena kealpaan kita untuk merawat dan melesatarikannya.
Padahal ia memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahun maupun budaya yang dapat menambah 
khasanah kita semua. Biar lebih greget simak video youtube saya mencari jejak telapak kaki 
Datok Kullup disini


Simak juga video youtube saya terkait pesona bukit piantus sebagai objek wisata alam, sejarah 
dan budaya disini.


Tulisan ini diikutsertkan dalam lomba Blog Cagar Budaya: Rawat atau Musnah! Yuk ramaikan 
lomba ini dengan menulis potensi cagar budaya atau kondisi cagar budaya di daerah kalian agar 
semakin dikenal serta mendapat penanganan dari pihak terkait agar tidak punah dan terlupakan.





Kabupten Sambas memiliki banyak sekali situs budaya yang dapat dijadikan sebagai cagar budaya. Beberapa diantaranya yang dimasukan dalam Cagar Budaya Indonesia adalah kompleks Istana Alwatzikhoebillah dan Masjid Jami Sultan Muhammad Tsafioedin II yang berada di Jalan 
Istana, Desa Dalam Kaum Sambas Kalimantan Barat.
Istana Alwatzikhoebillah (sumber foto : ciwir.blogspot.com)

Kedua situs budaya ini masih mampu 
bercerita tentang kejayaan kerajaan Sultaniyah Sambas pada zaman dahulu.
Sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya

Istana Alwaztikhoebillh atau dikenal Keraton Sambas menyimpan banyak sejarah untuk kita 
ketahui. seperti benda pusaka peninggalan sultan bahkan benda pusaka peninggalan raja zaman 
Kerajaan Sambas yang bercorak Hindu yaitu Ratu Sepudak. Selain itu, istana ini juga menjadi 
saksi peristiwa terbunuhnya pahlawan Sambas, Tabrani Ahmad di halaman istana, saat melawan 
pasukan Belanda. 


Istana Alwatzikhoebillah pertama kali dibangun pada masa pemerintahan sultan kedua dalam 
sejarah Kerajaan Islam Sambas yaitu Muhammad Tadjuddin yang berkuasa pada tahun 1668-
1708. Kemudian, Istana Alwatzikhoebillah dibangun kembali oleh Sultan Muhammad Mulia 
Ibrahim Syafiudin pada 3 September 1931. Selanjutnya pada tahun 1985 melalui Departemen 
Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar, pemerintah melakukan pemugran terhadap 
Keraton Sambas.

Gapura Pertama


Sebelum memasuki kompleks Istana Alwatzikhoebillah, pengunjung akan melihat gapura 
pertama yang berdiri kokoh tepat di pinggir jalan raya dan menghadap ke sungai. Selanjutnya 
setelah melewati gapura, kita akan melihat alun-alun istana dengan tiang bendera yang disangga 
oleh tiga tiang. Tiang bendera dengan tiga tiang peyangga melambangkan bahwa dalam 
menjalankan roda pemerintahan, sultan dibantu oleh wazir (abdi dalem kerajaan). Kemudian 
terdapat tiga meriam yang disangga oleh tiang penyangga. Tiga meriam tersebut melambangkan 
tiga buah sungai yang berada di depan istana yaitu Sungai Sambas Kecil, Sungai Subah dan 
Sungai Teberau yang harus dijaga kelastariannya. 
Gapura kedua 

Di sebelah kanan alun-alun pula terdapat masjid Jami Sultan Muhammad Tsafiodin II yang 
dibangun pada tahun 1883. Sebelum memasuki istana utama, terdapat pendopo di sebelah kiri 
dan kanan yang digunakan untuk tamu dan pertunjukan seni kala itu. Selanjutnya terdapat pula 
gapura kedua yang bertingkat dan menghadap ke sungai. Gapura ini dulunya digunakan untuk 
prajurit berjaga-jaga pada masa itu. 


Setelah melewati gapura kedua, kita akan melihat tiga buah istana. Istana utama bertuliskan 
Alwatzikhoebillah yang memiliki arti berpegang teguh dengan tali Allah. Pada istana utama ini 
kita dapat melihat simbol seperti bintang yang berjumlah tiga belas dengan angka 9 di 
tengahnya. Bintang tiga belas memiliki arti bahwa pembangunan istana ini dilakukan oleh cucu 
dari sultan ke-13. Sementara angka 9 melambangkan bahwa sultan yang membangun kembali 
istana ini adalah keturunan ke Sembilan dari garis keturunan sultan pertama. Selain itu kita juga akan melihat lambang burung elang laut yang bearti bahwa kerajaan Islam Sambas pernah 
memiliki armada laut yang Berjaya pada masa itu.
Elang Laut

Menurut sejarawan burung elang laut yang terdapat di simbol Istana Alawatzikhoebillah adalah Burung Elang Laut Dada Putih. Elang Laut menggambarkan kekuatan Pangeran Anom (Sultan 
Muhammad Ali Tsafioedin I) yang dikenal gesit, cepat dan bijaksana. Simbol Elang Laut ini 
dibuat oleh Pangeran Anom dalam bentuk seperti seekor naga dalam versi asia. Simbol tersebut 
menjelaskan bahwa sang pangeran seperti kuda yang berlari kencang di laut dan menerkam 
layaknya burung elang. Simbol Elang Laut pada Istana Alwatzikhoebillah sudah dibuat oleh 
Pangeran Anom sejak ia masih bergelar Raden (Belum diangkat menjadi Sultan). Simbol 
tersebut juga sudah dipasang di kapalnya yang bernama kapal Keruis atau kapal induk. sejak ia 
menjadi sultan di Kesultanan Sambas, simbol tersebut mulai dijadikan simbol istana 
Alwatzikhoebillah, dan masih digunakan hingga saat ini.


Setelah melihat simbol dan mengetahui makna filosofi yang terkandung di dalamnya, saatnya kita 
melihat arsitektur Keraton Sambas. Dari luar sebelum memasuki istana, kita bisa melihat warna 
istana dengan kuning ke emasan yang merupakan ciri khas dari suku melayu. Atapnya yang 
terbuat dari kayu dengan berlantaikan papan dan tiang kayu ini megah berdiri dan menyimpan 
banyak peninggalan kerajaan Islam Sambas. Beberapa diantaranya dapat dilihat berupa foto 
keluarga dan silsilah sultan, tempat tidur, sepatu, teko bertuliskan bahasa Belanda, serta baju 
yang digunakan sultan pada masa itu. Semua peninggalan itu masih terjaga rapi dan terawat baik.
Menyimpan foto Sultan dan silsilahnya

Selanjutnya di pavilion sebelah kanan pula merupakan ruangan yang digunakan untuk memasak. 
Sedangkan di pavilion sebelah kiri menyimpan berbagai barang pusaka zaman kerajaan Islam 
Sambas. Diantaranya keris yang gagangnya terbuat dari tanduk hewan dan bertahtakan batu 
zambrud serta delima. Ada pula payung ubur-ubur, payung keemasan, gendang, nobat, nekara, 
kromong, serunai nafiri, gambang, gong, tombak, tempat duduk raja yang merupakan hadiah 
dari Sultan Brunei pada zaman dahulu. 

Menarik untuk diketahui bahwa tempat duduk sultan digunakan ketika sultan akan 
mendengarkan keluhan rakyat. Pada zaman itu, istilah duduk sama rendah berdiri sama tinggi 
benar-benar diterapkan oleh sultan, sehingga ketika rakyat datang dan mengadu kepada sultan, 
sultan tidak duduk di singgahsananya melainkan duduk bersama rakyatnya dengan bearalaskan 
karpet yang merupakan hadiah dari sultan Brunei itu.

Selanjutnya ada pula barang peninggalan berupa alat-alat kebesaran kerajaan yang diwariskan 
oleh Ratu Sepudak (Raja Kerajaan Sambas yang bercorak Hindu) yang terdiri dari sebuah 
meriam kecil berbentuk pendek dan gemuk. Uniknya meriam ini memiliki nama yaitu Raden 
Mas. Selain meriam yang bernama Raden Mas, ada enam meriam kecil lainnya yang memiliki 
nama; Raden Putri, Raden Sambir, Raden Fajar, Ratu Kilat, Pangeran Padjajaran dan Panglima 
Guntur. Semua meriam yang memiliki nama tersebut dikenal dengan nama Meriam Beranak.

Konon meriam yang awalnya berjumlah tiga ini berkembang satu persatu hingga menjadi tujuh 
buah inilah yang menjadikannya sebagai Meriam Beranak dan sangat terkenal di kalangan 
masyarakat kabupaten Sambas.
Semua barang peninggalan kerajaan Islam Sambas tersebut masih terjaga rapi di dalam lemari 
kaca dan etalase di pavilion sebelah kiri istana utama Alwatzikhoebillah. Pengunjung dapat 
melihatnya dengan meminta izin kepada Ibu Sumariyati yang merupakan juru kunci istana 
sekaligus cucu dari Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiudin.

Untuk melihat barang peninggalan tersebut beberapa peraturan harus dipatuhi yaitu tidak boleh 
memotret atau memvideokan barang peninggalan yang dianggap keramat. Selain itu, wanita 
yang berhalangan atau sedang haid tidak diperkenankan untuk memasuki ruangan atau melihat 
peninggalan kerajaan yang berada di favilion sebelah kiri istana utama.

Masjid Jami Sultan Muhammad Tsafioedin II (sumber foto: infopromo.com)

Setelah kita melihat isi dalam istana Alwatzikhoebillah dan favilionnya, sayang jika melewatkan 
bangunan bersejarah lainnya yaitu Masjid Jami Sultan Muhammad Tsafioedin II. Pembangunan 
masjid ini pertama kali dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Ali Tsafioedin I 
(Pangeran Anom) yang diberi nama Masjid Jami atau Masjid Jami Pangeran Anom. 
Masjid tersebut memiliki ukuran bangunan yang tidak terlalu besar. Pembangunan kedua
dilakukan setelah Islam semakin berkembang pesat dan ukuran bangunan lebih besar dari 
sebelumnya. Pembangunan kedua ini dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Muhammad 
Tsafioedin II dengan nama Masjid Jami Sultan Muhammad Tsafioedin II. Masjid ini adalah satu 
diantara masjid tertua di Kalimantan Barat.
Serupa dengan istana yang menyimpan banyak sejarah dan filosofi, begitu juga dengan masjid 
ini. Di mulai dari warna dinding pada masjid yang kuning keemasan dengan bentuk atap taju 
bertingkat menyerupai atap masjid Demak.
Delapan tiang penyangga berbahan kayu belian (infopromo.com)

Masjid yang memiliki dua lantai ini, menggunakan 
bahan kayu belian sebagai tiang penyangganya dan lantainya. Tiang penyangganya yang terdiri 
dari 8 buah juga memiliki arti dan simbolik dari Sultan Muhammad Tsafioedin II beserta Sultan 
yang memerintah di Kesultanan Sambas. Makna delapan tiang penyangga adalah pendirinya 
adalah keturunan ke delapan atau sultan ke-13 garis keturunan kesultanan Sambas.

Kendi Raksasa (credit: infopromo.com)

Di dalam masjid kita akan melihat kendi raksasa yang digunakan untuk menampung air wudhu 
pada masa itu. Kendi raksasa tersebut merupakan hadiah dari Sultan Muhyidin (Sultan Brunei) 
kepada Sultan Muhammad Tajuddin atas pelantikannya Sebagai Sultan Anom (Gelar yang 
diberikan oleh Sultan Muhyidin ketika Sultan Muhammad Tajudin mengunjungi sanak 
saudaranya di Brunei).

Selanjutnya ada juga mimbar antik dengan ukiran berwarna emas yang 
diberikan oleh para pelaut dan pedagang yang berasal dari Palembang.
Selain barang-barang bersejarah yang masih tersimpan rapi dan terawat dengan baik, di dalam 
masjid ini terdapat pula perpustakaan mini yang dapat digunakan oleh Jemaah untuk membaca serta menambah ilmu pengetahuan. sehingga masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat 
ibadah melainkan juga tempat menimba ilmu melalui membaca.
istana Alwatzikhoebillah dan masjid jami Sultan Muhammad Tsafioedin II adalah saksi kejayaan 
kerajaan Islam sambas pada zaman dahulu. kedua situs cagar budaya Indonesia ini masih kokoh 
berdiri dan terjaga dengan baik.


Untuk istana Alwatzikhoebillah sendiri saat ini ditempati oleh pewaris tahta kerajaan Sambas 
yaitu Pangeran Ratu Muhammad Tarhan. Beliau adalah anak dari Pangeran Ratu H. Wiranata 
Kesuma bin Pangeran Ratu Muhammad Taufik bin Sultan Muhammad Mulia Ibraham Syafiudin. 
Meskipun ditempati oleh pewaris kerajaan beserta keluarganya, istana ini tetap terbuka untuk 
umum dan pengunjung dapat melihat barang peninggalan kerajaan serta belajar sejarah darinya. 

Sementara masjid Jami Sultan Muhammad Tsafioedin II menjadi masjid yang sering didatangi 
Jemaah untuk melakukan ibadah baik itu shalat fardu lima waktu, Jumat hingga shalat Id. Masjid 
ini mampu menampung kurang lebih 1000 jemaah.

Keberadaan Istana Alwatzikhoebillah dan Masjid Jamik Sultan Muhammad Tsafioedin II sebagai Cagar Budaya Indonesia perlu mendapat kerjasama dari semua pihak, tidak hanya pemerintah, keluarga sultan maupun masyarakat kabupaten Sambas serta pengunjung. Pemugaran yang dilakukan oleh pemerintah melalui Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar pada tahun 1985 menunjukan bahwa usaha pemerintah untuk memelihara warisan budaya telah dilakukan. Selanjutnya adalah upaya pengunjung untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar area Cagar Budaya ini agar tidak kotor serta ikut berpartisipasi untuk mematuhi peraturan saat mengunjungi cagar budaya ini seperti larangan untuk tidak duduk di kasur Sultan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Cagar Budaya: Rawat Atau Musnah!
Yuk kita ramaikan lomba ini agar cagar budaya Indonesia semakin dikenal oleh masyarakat luas.




Video Eklusif: Waktu berkunjung ke Istana Alwatzikhoebillah

Kondisi SDN 30 Semayong Desa Sui. Kumpai Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas Kalimantan Barat dalam kondisi yang memperihatinkan. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan harus terjun langsung ke lapangan untuk melihat langsung bahwa inilah potret insfrastruktur dunia pendidikan di Indonesia tidak hanya di Kalbar melainkan juga di daerah lainnya yang tidak terekspose oleh media massa.
Ayo turun ke lapangan, aksi nyata sangat diperlukan bukan komentar manis di media massa. Jika aksi nyata sudah dilakukan, awasi proyek tersebut karena yang berkaitan dengan dana sangat rawan untuk diselewengkan.

Perpustakaan adalah jendela dunia. Kalimat itu menjadi slogan perpustakaan pada umumnya. Meskipun demikian, tidak semua orang teringin mengunjungi perpustakaan bahkan pelajar dan mahasiswa sekalipun enggan sepertinya berkunjung ke perpustakaan yang memuat sumber informasi yang dibutuhkan. Namun tidak untuk Perpustakaan Unsyiah Kuala, Banda Aceh, Kota Banda Aceh ini. Pasalnya perpustakaan ini mampu menyesuaikan diri pada era teknologi masa kini. Dengan kata lain pustaka ini mampu tampil kekinian dengan inovasinya untuk menarik minat baca mahasiswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya . Makanya tidak heran jika pengunjungnya bisa mencapai 2500-3000 orang per harinya. 

Terletak di Jalan Nyak Arief Kampus Unsyiah Banda Aceh, pustaka ini berdiri megah dengan lantai 3 yang memiliki arsitektur modern. Dengan warna putih yang mencolok dan lingkungan yang asri, pustaka ini menyediakan layanan akses buku secara online. Selain itu, di tiap lantainya pustaka ini menyediakan ruang diskusi, seminar dan ruang belajar bagi pengunjungnya. Pustaka Unsyiah ini juga menyediakan ratusan ribu koleksi buku modern maupun klasik yang berjejer rapi di atas raknya, tempat fotocopy, meja informasi, layanan pengunjung, kantor layanan bank, kantor pos, toko buku, dan akses internet gratis.Tak hanya itu, pustaka ini juga menyediakan ruang kreativits seni yang cocok bagi pengunjung yang gemar berkreasi. 

Dengan tampil kekinian, Pustaka Unsyiah ini juga menyediakan warkop yang bernama Libri Cafe yang terletakdi lantai satu. sehingga perpustakaan ini menjadi tempat yang tidak membosankan. warkop ini bukan hanya sekadar warkop melainkan juga sebagai ajang pengenalan bisnis kepada pengusaha muda dan mengedukasi pengunjung agar lebih tahu tentang kopi. tak sampai di situ, pustaka ini juga menyediakan layanan mesin Electronic Data Capture (EDC) yang menggunakan kartu BRIZZI. Kartu ini dapat digunakan untuk membayar denda telat pengembalian buku, pengunjung umum perpustakaan, dan foto kopi jurnal. Ini adalah kerjasama antara Pustaka Unsyiah dengan BRI Wilayah Aceh.



Referensi disini  disini

.......................................