Kabupaten Sambas yang terdiri dari beragam suku dan agama memiliki tradisi yang unik. Satu diantaranya adalah tradisi dari masyarakat Melayu Sambas yakni Sedekah Nasi atau lebih sering dikenal oleh masyarakat dengan nama ‘’Ruahan Nasi’’ atau ‘’Sya’banan’’. (Baca disini)

 Tradisi Sedekah Nasi ini dilakukan oleh masyarakat melayu Sambas setiap bulan Sya’ban. Pada tradisi ini, sebuah keluarga (satu rumah) akan mengadakan acara makan siang, atau sore dengan mengundang anggota keluarganya baik yang dekat maupun jauh dan para tetangganya. Acara makan tersebut dilakukan secara Saprahan yang merupakan ciri khas suatu acara yang bersifat religius masyarakat melayu Sambas. Seperti acara sunatan, pernikahan, tepung tawar, antar uang, dan termasuk Sya’banan ini.

Biasanya tradisi Sedekah Nasi ini dilakukan oleh semua orang, namun besar kecilnya acara tersebut tergantung dari ekonomi yang dimiliki oleh orang tersebut. Biasanya sebuah keluarga yang memiliki budjet besar mengadakan tradisi Sedekah Nasi ini lebih besar porsinya (jumlah saprahan atau jumlah hidangan yang akan disuguhkan kepada tetangga yang diundang) dan mengundang banyak warga. Patokan dalam menentukan porsi hidangan yang akan disuguhkan adalah Saprahan. Satu saprahan biasanya mencapai 6 orang. Biasanya masyarakat mengadakan Sedekah Nasi ini 10 atau 20 saprah bahkan lebih, tergantung dari budjet masing-masing. Sementara untuk budjetnya kecil, biasanya cukup mengundang seseorang yang dianggap ahli dalam agama untuk membacakan do’a pada acara Sedekah Nasi tersebut. Terlepas itu semua, tradisi Sedekah Nasi ini sudah berlangsung lama, namun belum ada catatan pasti kapan tradisi ini mulai dilakukan.

Selain Sedekah Nasi, tradisi yang dilakukan di bulan Sya’ban ini adalah tradisi berziarah ke Kuburan yang disertai dengan bersih-bersih kubur atau pemakaman. Secara gotong royong, masyarakat membersihkan kuburan dari rumput-rumput liar. Tak lupa pula setelah dibersihkan, peziarah membacakan do’a dan menaburkan daun pandan diatas makam atau kuburan keluarganya.

Gambar Belale' (Deptan)
Belalee' adalah satu diantara tradisi di Kabupaten Sambas yang masih berlaku hingga hari ini. Tradisi tersebut lazimnya dilakukan oleh masyarakat yang berprofesi sebagai petani padi. Tidak diketahui pasti kapan tradisi tersebut mulai dilakukan, namun berdasarkan cerita orang-orang tua tradisi ini sudah dilakukan ratusan tahun lalu.

Hampir semua daerah di Kabupaten Sambas yang masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani padi melakukan tradisi Belale'. Tradisi ini merupakan bagian dari unsur gotong royong. Pada tradisi ini biasanya masyarakat terutama kaum perempuannya mengajak yang memiliki sawah padi mengajak beberapa orang wanita yang juga petani untuk ikut menanam padi, atau membersihkan lahan atau pula menuai padi. Ajakan tersebut disanggupi oleh petani lainnya tanpa bayaran materi. Namun imbalannya adalah mengerjakan atau ikut dalam kegiatan menanam padi, membersihkan lahan, maupun menuai pada sawah petani yang sudah diajak ikut ''belale' tersebut.

Sistem belale' memiliki kesamaan dengan sistem Arisan, namun yang membedakan adalah bentuk dari kegiatan yang dilakukan tersebut. Meskipun demikian, nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan ikut tertanam dalam tradisi ini. Tradisi Belale' ini biasanya dilakukan pada waktu akan menanam padi, saat padi sudah tumbuh yang diikuti dengan membersihkan lahan dari rumput liar dalam bahasa Sambasnya disebut ''Merumput'' atau menuai padi yang dalam bahasa sambasnya disebut ''Beranyi''.

Waktu pelaksanaannya biasanya lebih sering dilakukan pada siang hingga sore hari yaitu untuk jarak sawahnya jauh dari rumah biasanya dimulai dari jam 1 hingga 4 sore, tetapi jikalau lokasi sawahnya dekat dengan tempat tinggal biasanya dimulai setengah dua hingga pukul setengah 5 atau pukul lima. Tradisi Belale ini dilakukan meskipun cuaca panas atau hujan, kecuali jika cuaca sangat ekstrim seperti petir, maka petani akan istrirahat sebentar. Namun apa bila cuaca kembali normal,aktivitas Belale' kembali dilakukan.

Tradisi Belale' ini hanya berlaku didesa-desa Kabupaten Sambas yang berprofesi sebagai petani. Biasanya selama aktivitas Belale' itu dilakukan diselingi dengan canda tawa para petani. Tidak ada rasa lelah maupun keluhan karena aktivitas tersebut dilakukan berdasarkan rasa kebersamaan. Biasanya pelaksanaan tradisi Belale' berdasarkan urutan, jika hari Senin adalah giliran A, maka berikutnya bisa giliran B atau C sesuai kesepakatan bersama. Tradisi Belale ini bisa dilakukan oleh dua orang atau lebih. Tapi biasanya jumlahnya tidak melebihi dari 10 orang.

Eti Susanti (Tribun Pontianak)
Masih ingat dibenak rakyat Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yang dihebohkan kasus pemerkosaan disertai pembuhan terhadap Eti Susanti 19 tahun, Siswi SMKN 1 Sekura, Teluk Keramat, Kab. Sambas yang terjadi hampir setahun lalu. Sempat diberitakan hilang beberapa hari, mayat siswi SMKN 1 Sekura tersebut ditemukan membusuk di kawasan hutan karet Dusun Sangge Mangge, Kabupaten Sambas pada hari Rabu 11 Januari 2012 lalu.Sentak kabar penemuan mayat tersebut membuat keluarga dan SMKN 1 Negeri Sekura berduka, rasa ingin diungkap pelaku pembunuhan pun disampaikan oleh berbagai pihak, banyak pihak yang merasa geram akan tindakan bejat pelaku pembunuhan tersebut. 

Seperti yang dilansir oleh media tribun Pontianak, ayahanda Eti Susanti mengungkapkan kepada wartawan agar pihak kepolisian menangkap siapa yang tega menghabisi nyawa putrinya tersebut. Ia juga meminta siapapun pelakunya diproses sesuai hukum. Namun hampir setahun ini bagaimanakah perkembangan kasus tersebut? Sudah ditangkapkah pelaku pemekosaan dan pembunuhan tersebut? Jawabannya tidak! 

Banyaknya kasus kriminal yang terjadi di Kabupaten Sambas dan Kalbar tentu membuat pihak kepolisian menjadi sibuk sehingga secara perlahan satu persatu kasus yang hangat pada waktunya harus sedikit tenggelam perlahan-lahan, akhirnya keluarga korban hanya menanggung duka tanpa kepastian hokum terhadap pelaku. Sementara pelaku, bebas berkeliaran tanpa, masyarakat lainnya? Siap-siap menerima nasib yang sama jika pelaku tidak segera ditangkap. Lambanya kasus ini apakah berarti Polres Sambas dan Polda Kalbar Mandul??? Boleh saja dibilang YA….

Belum lama pembunuhan kembali terjadi, yang juga terjadi di Jawai, Kabupaten Sambas. Korban adalah Najira berumur 13 tahun, lagi dan lagi kasus sadis yang terjadi di Kabupaten Sambas yang dikenal dengan istilah Sambas Terigas ini tetap tak terselesaikan oleh pihak kepolisian. Hal ini cukup untuk membuat statement bahwa Polres Sambas dan Polda Kalbar terkesan Mandul, serta tidak dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat. Tulisan ini bukanlah untuk menghakimi kinerja dari pihak kepolisian, namun merupakan bentuk dari kekecawaan atas kinerja polisi yang dinilai lamban, apalagi kasus ini sudah lama sekali. Apakah pihak kepolisian menunggu korban berikutnya baru akan bertindak?



Refferensi :
Tribun Pontianak: http://pontianak.tribunnews.com/2012/01/13/eti-susanti-ditemukan-membusuk
Equator (Harian Rakyat Kalbar): http://www.equator-news.com/patroli/20120119/susan-dibunuh-terencana-paman-najira-menghilang


Cilok (singkatan dari Aci dicolok) adalah sebuah makanan rakyat khas Jawa Barat yang berasal dari Indonesia yang terbuat dari tepung Kanji (aci dalam bahasa sunda) yang kenyal dengan di tambahkan bumbu pelengkap seperti Saus Kacang, Kecap,dan Saus. (wikipedia)


Cilok... Makanan ini tentunya sudah tidak asing lagi bagi rakyat Jabar atau Kota Bandung. Pasalnya makanan ini mudah didapatkan dengan harga terjangka. Sama halnya dengan Cimol, Cilok yang merupakan makanan Khas Jabar ini terbuat dari tepung Aci yang dibentuk bulat/lonjong yang kemudian direbus. Sekilas, makanan kecil ini terlihat seperti bakso dengan rasa daging yang meresap di Cilok ini. Rasanya yang kenyal ini dikombinasikan dengan saus kacang, kecap atau saus cabe. Biasanya tergantung selera sipemesan.

 Layaknya makanan rakyat, Cilok ini juga mudah didapatkan dengan harga yang terjangkau pula. Biasanya pedagang keliling nongkrong didepan kampus atau sekolah. Makanan ini pas dijadikan cemilan diwaktu senggang anda.


Cimol adalah makanan ringan yang dibuat dari tepung kanji. Cimol berasal dari kata (Bahasa Sunda aci digemol), yang artinya tepung kanji dibuat bulat-bulat. (wikipedia)


Cimol ini adalah makanan khas Rakyat Kota Bandung, Jawa Barat. Bentuknya yang bulat menyerupai bakso ini terbuat dari tepung kanji yang digoreng dan dibumbui dengan perisa makanan berbagai rasa, seperti rasa bawang dan rasa daging ayam. Rasanya yang enak dan gurih ini sangatlah cocok sebagai cemilan kala menikmati waktu istirahaat anda. Anda pun dapat memesan Cimol ini sesuai selera anda, apakah mu pedas, rasa bawang atau rasa lainnya.

Sebagai makanan rakyat, tentu makanan unik ini mudah sekali untuk didapatkan. Biasanya dijual oleh pedagang keliling yang suka nongkrong didepan sekolah atau kampus.

 Selain mudah didapatkan, harga makanan kecil mungil ini juga terjangkau. Cukup dengan Rp. 2000 atau lebih sesuai selera dan kebutuhan perut anda, maka anda dapat mencicipi menu khas Kota Kembang ini. Tertarik untuk mencobanya?

SIARAN PERS
 Menapak Tilas Perjalanan 50 Tahun Konservasi WWF Bersama Masyarakat di Indonesia 
 Jakarta – Pada September 2012, WWF-Indonesia genap berusia 50 tahun. Dalam memperingati ulang tahun emasnya, WWF-Indonesia meluncurkan buku berjudul “Masyarakat dan Konservasi: 50 Kisah yang Menginspirasi dari WWF untuk Indonesia”. Buku ini unik. Selain ditulis langsung oleh lebih dari 40 staf yang bekerja di program dan kantor lapangan WWF di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua, juga menampilkan cuplikan pengalaman dan sejarah perjalanan 50 tahun kiprah WWF bekerja bersama masyarakat. “Buku ini menggarisbawahi salah satu faktor penting mengapa WWF-Indonesia dapat terus eksis dan kerja konservasinya tetap relevan hingga saat ini, yaitu dengan bermitra dan mengedepankan kepercayaan serta hubungan baik dengan masyarakat”, kata Hermayani Putera, anggota Tim Editor, yang juga Manajer WWF-Indonesia untuk Program Kalimantan Barat. Bagaimana masyarakat di Aceh bangkit dari tsunami, kerasnya upaya masyarakat mengembangkan ekowisata di Jantung Borneo, serta sepak terjang pegiat konservasi memberantas illegal logging di Riau, hanyalah sedikit contoh dari kisah-kisah inspiratif dalam buku ini. Buku setebal 140 halaman ini merupakan pintu masuk ke cerita-cerita yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat dan kearifan lokal di berbagai tempat di Indonesia. “Buku ini mencoba membangun benang merah bahwa strategi konservasi harus sejalan dengan strategi sosial, budaya, dan pembangunan ekonomi. Konservasi juga membutuhkan komitmen politik yang memadai. Jika strategi ini terintegrasi, masyarakat tidak akan ragu mencurahkan seluruh potensi sosial yang dimiliki dan mendukung inisiatif konservasi di wilayah mereka”, lanjut Hermayani. Pada mulanya WWF hadir di Indonesia hanya fokus untuk perlindungan spesies, yang digawangi oleh pelestarian badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon pada tahun 1962. Namun dalam perkembangannya WWF mulai melakukan pendekatan kepada masyarakat di sekitar kawasan konservasi, karena tanpa dukungan mereka upaya pelestarian spesies langka tidak akan berjalan optimal. Selama setengah abad bekerja di Indonesia, WWF tidak hanya tertantang oleh kondisi geografis di wilayah kerjanya dari Sumatera hingga Papua, tetapi juga berhadapan dengan masyarakat yang memiliki keragaman budaya dan latar belakang, serta kebutuhan yang berbeda. Kondisi ini menunjukkan kompleksitas dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) di Indonesia dan tantangan yang dihadapi. “Sebagian pelaku pembangunan masih mengabaikan filosofi dasar kearifan lokal, bahwa masyarakat selalu berakar dan tergantung hidupnya dari SDA yang lestari”, tambah Hermayani. WWF-Indonesia berharap kehadiran buku ini dapat menambah semangat dan menjadi inspirasi bagi banyak pihak, termasuk pemerintah, dunia usaha, dan aktivis di jaringan masyarakat sipil yang bekerja bersama masyarakat dalam berbagai isu dan agenda.


Versi online buku ini dapat diunduh melalui link: http://www.wwf.or.id/?27200/50-kisah-inspirasi-wwf-untuk-indonesia





Sumber : Forward Email by Hermayani Putera, Tim Editor, West Kalimantan Program Manager, WWF-Indonesia

a