Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisinya sendiri yang unik dan sangat menarik untuk diketahui. Satu diantaranya adalah Desa Sungai Kumpai Dusun Semayong yang memiliki tradisi tahunan yang unik. Tradisi tersebut sudah berlangsung lama dan turun menurun dilakukan oleh warganya. Tradisi tersebut adalah “berkebun semangka” yang dilakukan setiap tahun diakhir musim panen padi.

 Masyarakat setempat memiliki tradisi berkebun semangka seusai musim panen padi dan sekaligus menjelang musim panas. Hal itu dilakukan mengingat tanaman semangka sangat rentan terhadap genangan air. Sehingga musim panen padi yang biasa dilakukan menjelang musim panas menjadi awal untuk persiapan berkebun semangka.

Pada sekitar tahun 90an, warga setempat membuka lahan tanah gambut sebagai lahan kebun semangka mereka. Namun sekitar 2002 hingga sekarang, lahan yang dibuka untuk kebun semangka bukan lagi lahan tanah gambut melainkan lahan bekas sawah padi. Peralihan lahan tersebut dikarenakan seusai berkebun semangka, lahan gambut tersebut akan ditanami pohon karet. Oleh karena itu, sekarang ini kebanyakan warga berkebun semangka dengan memanfaatkan lahan sawah padi yang sebelumnya sudah dibersihkan. Memang terdapat perbedaan kualitas buh antara di lahan gambut dengan lahan sawah yaitu pada umumnya semangka yang ditanam di tanah gambut menghasilkan buah yang lebih besar dan lebih manis dibandingkan lahan sawah yang memiliki tekstur tanah yang kering. Meskipun demikian, hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk melakukan tradisi tahunan ini. Bahkan hampir semua masyrakatnya yang semula dari lahan gambut bermigrasi ke lahan sawah padi.

Proses berkebun yang dilakukan ini memakan waktu yang lama yaitu sekitar enam bulan. Dalam waktu tersebut berbagai proses dilakukan yaitu pembibitan yang memakan waktu satu minggu, dilanjutkan dengan proses pembuatan “terumbu’’ atau bedengan yang dibentuk bulat, lalu diikuti penanaman, pembesaran terumbu, pemberian abu dan pupuk, dan terakhir penutupan terumbu dan penyemprotan hama. Setelah semua proses selesai dilakukan, tinggal menunggu waktu panen buah. Semua proses tersebut dilakukan secara manual dan menggunakan cara yang masih tradisional loh . Meskipun demikian, kualitas buah yang dihasilkan juga masih sangat bagus. Kualitas buah semangka dari Dusun Semayong ini memang diakui oleh daerah disekitarnya, termasuk Kota Sambas, maka tidak heran jika Semayong ini dikenal sebagai daerah penghasil buah semangka yang manis. Mengingat kualitas buah semangka yang tegolong bagus ini, maka sebaikanya pula diketahui cara tradisional yang dilakukan masyarakatnya dalam berkebun semangka ini.

 1. Pembibitan
Di mulai dari pembibitan yang bibit semangka (biji) dicuci terlebih dahulu, kemudian dibungkus dengan kain (terserah kain apa saja) dengan ukuran selebar 5 jari. Biji semangka yang akan dijadikan bibit tersebut harus dihitung jumlahnya. Hal itu dipandang perlu guna menyesuaikan dengan jumlah “terumbu’’ yang akan dibuat nanti. Biasanya satu “terumbu’’ memuat enam biji atau 10 biji.

2. Membuat terumbu
Proses selanjutnya adalah membuat terumbu. Pada umumnya bentuk terumbu semangka untuk penanaman biji berbentuk persegi. Setelah semangka tumbuh, maka terumbu tersebut yang awalnya persegi akan dibentuk secara perlahan menjadi bulat dan besar. Biasanya jumlah terumbu yang dibuat bervariasi yakni berkisar antara 20-100 terumbu. Semakin banyak terumbu yang dibuat semakain banyak pula nanti buah yang akan dipanen.


 3. Penanaman
Nah pada proses penanaman ini, terumbu yang sudah dibuat biasanya diberi abu. Lalu, abu tersebut dicampurkan dengan tanah (terumbu) tersebut. Selanjutkan bibit dan“paraden’’ (semacam racun hama agar bibit tidak dirusak hama/semut) dimasukan ke dalam tanah/terumbu yang sudah dilubangi (sekitar 3 atau lima lubang dengan asumsi 2 biji semangka per lubang). Setelah itu, ditutupi dengan tanah dan terumbu akan berbentuk persegi yang memiliki cekungan.

4. Pembesaran
terumbu Setelah semangka tumbuh, maka terumbu akan diperlebar sisinya. Saat inilah yang bentuk asalnya persegi diubah menjadi bulat. Di setiap pinggir terumbu akan digali dan dibentuk menjadi lingkaran/bulat. Pembesaran terumbu harus dilakukan secara hati-hati agar tidak terkena akar tanaman semangka.

 5. Pemberian abu dan pupuk
Setelah pembesaran terumbu selesai dilakukan, tanahnya kembali digali untuk diberi abu dan pupuk. Abu tersebut diperoleh dari hasil membakar rumput, daun, atau kayu sisa pembersihan lahan. Penggalian tanah ini harus hati-hati agar tidak terkena akar semangka, karena saat itu akar semangka sudah mulai menyebar. Pupuk dan abu yang ditaburkan juga berada jauh dari akar semangka. Setelah proses pemberian pupuk dan abu selesai dilakukan, terumbu kembali dirapikan dan kembali ditaburi abu.

 6. Penutupan terumbu
Masyarakat setempat menyebut proses ini sebagai “nembok terumbu’’. Untuk proses ini, terumbu kembali digali dan diberi abu serta pupuk. Setelah itu, dilakukan penutupan terumbu semangka menggunakan lapisan akar pakis (pada lahan gambut) atau jerami padi (lahan sawah). Pada saat ini juga, semangka sudah mulai berbunga, nah agar semangka tetap tumbuh sehat, maka perlu dilakukan pula penyemprotan hama. Setelah semua proses tersebut dilakukan saatnya menunggu semangka berbuah. Pada saat semangka mulai berbuah, dan buahnya sebesar kepalan tangan, biasanya akan dipetik dan dijadikan sayuran. Saat berkebun semangka, diselingi juga dengan kebun lainnya seperti mentimun, dan kacang. Setelah buah semangka besar, maka untuk mengenal buah yang sudah matang adalah melalui tangkainya. Di dekat tangkainya terdapat seperti akar yang keriting (ga tau namanya), jika mengering maka dipastikan buah semangka sudah matang. Kemudian cara kedua adalah dengan memukulkan jari ke buah semangka tersebut. Biasanya buah semangka matang secara bersamaan, jadi tinggal lihat apakah tangkainya sudah mengering atau belum 

Share on :

2 Responses to Yuk kita intip tradisi tahunan masyarakat melayu Desa Sungai Kumpai!

  1. Eka Soepadmo Says:
  2. lain daerah ternyata lain juga cara bertanam tapi pada prinsipnya sama juga

     
  3. iya gan... hehe

     
.......................................




Translate

PSF

PSF