Cilok (singkatan dari Aci dicolok) adalah sebuah makanan rakyat khas Jawa Barat yang berasal dari Indonesia yang terbuat dari tepung Kanji (aci dalam bahasa sunda) yang kenyal dengan di tambahkan bumbu pelengkap seperti Saus Kacang, Kecap,dan Saus. (wikipedia)


Cilok... Makanan ini tentunya sudah tidak asing lagi bagi rakyat Jabar atau Kota Bandung. Pasalnya makanan ini mudah didapatkan dengan harga terjangka. Sama halnya dengan Cimol, Cilok yang merupakan makanan Khas Jabar ini terbuat dari tepung Aci yang dibentuk bulat/lonjong yang kemudian direbus. Sekilas, makanan kecil ini terlihat seperti bakso dengan rasa daging yang meresap di Cilok ini. Rasanya yang kenyal ini dikombinasikan dengan saus kacang, kecap atau saus cabe. Biasanya tergantung selera sipemesan.

 Layaknya makanan rakyat, Cilok ini juga mudah didapatkan dengan harga yang terjangkau pula. Biasanya pedagang keliling nongkrong didepan kampus atau sekolah. Makanan ini pas dijadikan cemilan diwaktu senggang anda.


Cimol adalah makanan ringan yang dibuat dari tepung kanji. Cimol berasal dari kata (Bahasa Sunda aci digemol), yang artinya tepung kanji dibuat bulat-bulat. (wikipedia)


Cimol ini adalah makanan khas Rakyat Kota Bandung, Jawa Barat. Bentuknya yang bulat menyerupai bakso ini terbuat dari tepung kanji yang digoreng dan dibumbui dengan perisa makanan berbagai rasa, seperti rasa bawang dan rasa daging ayam. Rasanya yang enak dan gurih ini sangatlah cocok sebagai cemilan kala menikmati waktu istirahaat anda. Anda pun dapat memesan Cimol ini sesuai selera anda, apakah mu pedas, rasa bawang atau rasa lainnya.

Sebagai makanan rakyat, tentu makanan unik ini mudah sekali untuk didapatkan. Biasanya dijual oleh pedagang keliling yang suka nongkrong didepan sekolah atau kampus.

 Selain mudah didapatkan, harga makanan kecil mungil ini juga terjangkau. Cukup dengan Rp. 2000 atau lebih sesuai selera dan kebutuhan perut anda, maka anda dapat mencicipi menu khas Kota Kembang ini. Tertarik untuk mencobanya?

SIARAN PERS
 Menapak Tilas Perjalanan 50 Tahun Konservasi WWF Bersama Masyarakat di Indonesia 
 Jakarta – Pada September 2012, WWF-Indonesia genap berusia 50 tahun. Dalam memperingati ulang tahun emasnya, WWF-Indonesia meluncurkan buku berjudul “Masyarakat dan Konservasi: 50 Kisah yang Menginspirasi dari WWF untuk Indonesia”. Buku ini unik. Selain ditulis langsung oleh lebih dari 40 staf yang bekerja di program dan kantor lapangan WWF di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua, juga menampilkan cuplikan pengalaman dan sejarah perjalanan 50 tahun kiprah WWF bekerja bersama masyarakat. “Buku ini menggarisbawahi salah satu faktor penting mengapa WWF-Indonesia dapat terus eksis dan kerja konservasinya tetap relevan hingga saat ini, yaitu dengan bermitra dan mengedepankan kepercayaan serta hubungan baik dengan masyarakat”, kata Hermayani Putera, anggota Tim Editor, yang juga Manajer WWF-Indonesia untuk Program Kalimantan Barat. Bagaimana masyarakat di Aceh bangkit dari tsunami, kerasnya upaya masyarakat mengembangkan ekowisata di Jantung Borneo, serta sepak terjang pegiat konservasi memberantas illegal logging di Riau, hanyalah sedikit contoh dari kisah-kisah inspiratif dalam buku ini. Buku setebal 140 halaman ini merupakan pintu masuk ke cerita-cerita yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat dan kearifan lokal di berbagai tempat di Indonesia. “Buku ini mencoba membangun benang merah bahwa strategi konservasi harus sejalan dengan strategi sosial, budaya, dan pembangunan ekonomi. Konservasi juga membutuhkan komitmen politik yang memadai. Jika strategi ini terintegrasi, masyarakat tidak akan ragu mencurahkan seluruh potensi sosial yang dimiliki dan mendukung inisiatif konservasi di wilayah mereka”, lanjut Hermayani. Pada mulanya WWF hadir di Indonesia hanya fokus untuk perlindungan spesies, yang digawangi oleh pelestarian badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon pada tahun 1962. Namun dalam perkembangannya WWF mulai melakukan pendekatan kepada masyarakat di sekitar kawasan konservasi, karena tanpa dukungan mereka upaya pelestarian spesies langka tidak akan berjalan optimal. Selama setengah abad bekerja di Indonesia, WWF tidak hanya tertantang oleh kondisi geografis di wilayah kerjanya dari Sumatera hingga Papua, tetapi juga berhadapan dengan masyarakat yang memiliki keragaman budaya dan latar belakang, serta kebutuhan yang berbeda. Kondisi ini menunjukkan kompleksitas dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) di Indonesia dan tantangan yang dihadapi. “Sebagian pelaku pembangunan masih mengabaikan filosofi dasar kearifan lokal, bahwa masyarakat selalu berakar dan tergantung hidupnya dari SDA yang lestari”, tambah Hermayani. WWF-Indonesia berharap kehadiran buku ini dapat menambah semangat dan menjadi inspirasi bagi banyak pihak, termasuk pemerintah, dunia usaha, dan aktivis di jaringan masyarakat sipil yang bekerja bersama masyarakat dalam berbagai isu dan agenda.


Versi online buku ini dapat diunduh melalui link: http://www.wwf.or.id/?27200/50-kisah-inspirasi-wwf-untuk-indonesia





Sumber : Forward Email by Hermayani Putera, Tim Editor, West Kalimantan Program Manager, WWF-Indonesia

Lumpia Basah, sudah pernah merasakan makanan yang satu ini? Kalau belum tentunya anda harus segera untuk mencobanya. Pasalnya makanan rakyat Indonesia yang berasal dari Kota Semarang dan di adopsi di Kota Bandung ini sangatlah lezat dengan harga yang terjangkau. Lumpia Basah yang merupakan asli dari Kota Semarang ini terbuat dari rebung, namun di Kota Bandung sendiri, Lumpia Basah ini sediki mengalami modifikasi yaitu terbuat dari tepung terigu yang dicampur dengan telur dan sayur toge. Meskipun demikian, Lumpia Basah yang mengalami modifikasi ini TIDAK meninggalkan ciri khasnya yaitu rebung.

Tentu anda merasa penasaran terhadap bentuk Lumpia Basah ini bukan? Bentuknya menyerupai ''Dodol Gulung''. Namun yang membedakannya adalah isinya. Cara penyajiannya juga cukup unik, Lumpia Basah yang sudah siap untuk disantap ini dimasukan ke dalam kertas pembungkus nasi (Paper Wrap)dan sumpit sebagai pengganti sendoknya. Seperti halnya makanan rakyat lainnya, Lumpia Basah ini biasanya dijual menggunakan gerobak yang nongkrong didepan kampus atau sekolah. Untuk harganya, hanya Rp. 5000 per porsi yang tersedia dengan berbagai rasa satu diantaranya manis dan pedas.

.......................................




Translate

PSF

PSF